Senin, 23 Juli 2012

Islam kok pacaran?

Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.


Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.


Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).


Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?


Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !


Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).


Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."


Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, ataw memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya." Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi "dunia berpacaran" mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi "perahu pacaran" itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan "mencintai karena Allah" tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai "mencintai karena Allah ?" Jawabnya jelas tidak !


Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan.

Rabu, 23 Mei 2012

Pergaulan Generasi Muda Menurut Islam


Berhubung dalam pembelajaran agama Islam ada materi mengenai dakwah, ana ditugaskan untuk berdakwah,  ana mau posting nih. Adapun tema yang ana angkat yaitu “Pergaulan Generasi Muda Menurut Islam.”
Oke, langsung aja yaaaaa, chek it out J
Remaja adalah generasi muda garapan harapan bangsa. Di tangan merekalah estapet perjuangan bangsa ini terletak. Bila kita amati pergaulan generasi muda, khususnya remaja pada akhir-akhir ini sudah mulai jauh dari tuntunan nilai-nilai Islam. Banyak di antara mereka yang terlibat dengan narkoba, pergaulan bebas, balapan liar, dan hal-hal lain yang merusak masa depan.
          Contoh saja tentang narkoba, dengan tegas Allah SWT melarang kita untuk terlibat dengan hal yang berhubungan dengan narkoba. Sebagaimana Q.S AL-Maidah : 90, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala,mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
          Khamar dalam ayat ini berarti semua hal yang menyebabkan hilangnya akal sehat dan kesadaran diri karena mengkonsumsi barang tersebut. Baik dengan meminum, memakan, atau mengisap dan sebagainya. Dalam arti kata, semua jenis narkotika, psikotropika, dan zat aditif lainnya dikategorikan sebagai khamar, dan hal ini sangat dibenci oleh Allah karena merupakan perbuatan setan. Maka, tidak pantas bagi seorang remaja melakukan perbuatan-perbuatan setan yang jelas-jelas menghancurkan masa depannya dan merusak motivasi belajar. Padahal pada masa remaja inilah, waktu yang paling ideal untuk menimba ilmu pengetahuan sebanyak-benyaknya dan penanaman nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan, belum lagi dampak yang diakibatkan oleh narkoba dan zat aditif lainnya yang merusak kehidupan manusia.
          Begitu pula dengan pergaulan remaja yang akhir-akhir ini kita saksikan sudah sedemikian bebas dan jauh dari tuntunan agama. Nilai-nilai agama yang seharusnya jadi tuntunan dan ikutan dalam kehidupan dianggap mengekang dan dibelakangkan. Dan justru mereka mengadopsi nilai-nilai kehidupan barat yang sangat bebas dan mengedepankan hawa nafsu, yang dengan cara apa pun tidak sesuai dengan budaya kita, bangsa yang lahir, tumbuh, dan besar di negeri yang berfalsafah “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.”
          Betapa banyak kita saksikan remaja-remaja yang hamil diluar nikah pada usia sekolah. Bahkan hampir setiap hari kita saksikan di depan mata kita sendiri, remaja berboncengan di atas motor, berpelukan, dan berbuat hal-hal asusila lainnya dengan rasa tanpa perasaan bersalah dan malu dilihat orang lain yang bahkan bapak ibunya tidak pernah melakukannya.
          Allah telah jelas-jelas memerintahkan setiap muslim dan muslimah untuk  menjauhi perbuatan zina. Sebagaimana Q.S Al-Israa : 32,  yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”
          Teman-teman yang saya sayangi, marilah kita mulai dari diri kita sendiri dan keluarga untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari kita khususnya bagi kita, generasi muda. Para remaja, mari jauhkan diri kita, teman-teman, dan keluarga kita dari hal yang berbau narkoba, begitupun dengan pergaulan. Karena tidak sepantasnya seorang muslim dan muslimah yang tidak terikat hubungan suami istri yang bukan muhrim berkhalwat (berdua-duaan) kapan dan dimana saja, karena setiap laki-laki dan perempuan yang berdua-duaan maka yang ketiga adalah setan.
          Marilah kita manfaatkan waktu di masa remaja ini bukan untuk berpacaran dan hal negative lainnya. Tapi marilah kita isi dengan belajar bersungguh-sungguh, membca serta mempelajari isi kandungan AL-Qur’an serta hadits nabi, meningkatkan pemahaman dan ilmu-ilmu agama, serta membantu meringankan beban orang tua dengan tidak membuat masalah dalam keluarga dan masyarakat.

Semoga bermanfaat ^_^