Kamis, 08 Oktober 2015

Bersyukurlah!


Bismillaahirrahmaanirrahiim
            Preklinik! Mungkin mahasiswa kesehatan tidak asing lagi dengan istilah ini terutama mahasiswa keperawatan. Yap! Pada saat preklinik (sebelum profesi) mahasiswa keperawatan harus mengaplikasikan ilmu yang telah di dapatkan di dunia perkuliahan ke masyarakat dan tempat klinis seperti rumah sakit dan puskesmas. Nah, pada postingan kali ini saya akan berbagi pengalaman ketika praktik klinik di komunitas lansia yang dikenal dengan keperawatan gerontik.
            Jujur, ini merupakan praktik klinik pertama bagi saya. Lho, kok yang pertama sih? Saya adalah mahasiwa keperawatan yang tengah meduduki semester lima tapi saya belum pernah praktik klinik di rumah sakit  ataupun puskesmas. Kurikulum di fakultas membolehkan mahasiswa keperawatan terjun ke dunia klinis saat menduduki semester tujuh. Cukup lama memang!
            Praktik klinik di  komunitas gerontik dimulai pada awal September lalu. Untuk melaksanakan  praktik klinik ini mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Disebabkan total mahasiswa di kelas saya tujuh puluh orang jadi tidak memungkinkan terjun ke lapangan ketujuhpuluhannya. Setiap kelompok akan terjun ke lapangan pada hari sabtu dan minggu. Jika pada minggu pertama kelompok satu yang praktik klinik berarti minggu selanjutnya yang praktik klinik adalah kelompok dua dan begitu seterusnya.
            Sebelum melaksanakan praktik klinik dosen mata kuliah keperawatan gerontik memberikan opsi kepada kami untuk memilih panti jompo mana yang akan dipilih. Nah, dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memilih WCK dengan alasan lebih dekat dan aksesnya mudah. Setelah memilih kemudian kami diberi tahu bahwa semua lansia yang tinggal di WCK beragama nonislam. Shock? Pasti. Jika dalam keseharian bertemu dengan masyarakat yang mayoritas beraga Islam nah sekarang kami akan bertemu dengan masyarakat nonislam. Dalam kehidupan ini kita memang tidak boleh membeda-bedakan latar belakang agama dan budaya seseorang, mungkin karena tidak terbiasa jadi efeknya begitu.
            Tahukah kau teman? Ternyata keadaan di sana tidak sesuai dengan ekspetasi kami. Walaupun masyarakat di sana beragama nonislam tapi mereka sangat  menghargai kita yang beraga Islam, toleransi terhadap agama kita patut diacungkan jempol. Awalnya kami bingung mau shalat di mana ternyata pihak WCK menyediakan sebuah ruangan khusus untuk perawat. Nah, di ruangan perawat inilah kami melaksanakan shalat karena beberapa perawat di sini ada yang beragama Islam.
            Sesampai di sana kami disambut oleh seorang oma yang berinisial P. Oma P sangat ramah pada kami. Dari matanya terlihat sebuah kesedihan dan pengharapan yang cukup besar. Saya cukup terkesan dengan keramahan Oma P ini. Saat pengarahan dari perawat yang bertugas kami mengetahui total lansia yang tinggal di sini berjumlah empat puluh orang dengan berbagai diagnosa medis. Hipertensi, stroke, DM, rematik, asam urat, osteoporosis, depresi, demensia, waham, harga diri rendah, isolasi sosial, ditemukan di sini.
            Banyak sekali pengalaman yang di dapat di sini. Seorang perawat harus bisa empati terhadap keadaan kliennya. Seorang perawat akan memberikan asuhan keperawatan pada kliennya, bagaimana mungkin dia tidak empati terhadap kliennya?
            Miris memang. Hati saya seakan dicabik-cabik saat mendengar cerita oma-opa tersebut. Setelah bercerita dengan beberapa oma-opa tersebut saya mengetahui alasan masuk mereka ke WCK. Adapun alasannya yaitu karena diantar oleh anak, tidak ada yang merawat, tinggal seorang diri, bahkan ada yang ditelantarkan begitu saja. Naudzubillahi minzalik.
Bukankah seorang anak wajib berbakti pada ibu dan ayahnya? Saat kita kecil merekalah  yang merawat kita. Tak peduli apakah mereka sibuk bekerja, ekonomi pas-pasan, dan sebagainya. Namun, mereka tetap merawat kita. Kasih sayang dari mereka terus mengalir pada diri kita walau dengan keadaan seperti itu. Saat mereka memasuki usia senja kenapa kita tak membalas jasa mereka? Kenapa bukan kita yang merawat mereka? Apakah Anda puas ketika dikatakan sukses tapi Anda tidak sukses merawat kedua  orang tua Anda? Bukankah orangtua sangat berperan penting dalam kesuksesan Anda? Bukankah orangtua yang menyekolahkan Anda hingga Anda memperoleh pendidikan yang tinggi? Malah, ada yang mengatakan anaknya bekerja di luar negeri dengan profesi yang patut diacungkan jempol. Namun,  apa yang terjadi? Ketika Anda menjadi orang besar Anda melupakan orang-orang yang membantu Anda untuk menjadi orang besar. Astaghfirullah.
***
Hidup itu seperti ban mobil. Kadang kita berada di atas dan kadang di bawah. Saat kita berada di bawah jangan bersedih karena suatu saat nanti kita akan berada diposisi atas. Sebaliknya, saat kita berada di posisi atas ingatlah bahwa suatu nanti kita akan berada di posisi bawah. Bersyukurlah terhadap semua yang diberikan Tuhan.
Seiring berjalannya waktu kita akan mendapati usia lanjut, in syaa Allah. Saat memasuki usia lanjut sistem penyusun tubuh banyak mengalami kemunduran. Baik itu kemunduran sistem neurologi, penglihatan, hormon, integumen, ekstremitas atas dan bawah, fungsi pernapasan, jantung, ginjal, reproduksi, dan sebagainya. Hal ini sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari. Sebelum nikmat tersebut diambil maka bersyukurlah! Gunakan nikmat tersebut dengan sebaiknya sebagai bukti syukur atas nikmatNya. Jika kita bersyukur atas nikmat yang diberikan maka Dia akan melipatgandakan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga kedua telapak kaki. Dalam Al-qur’an Surat Ibrahim ayat 34 disebutkan, “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya.” Sudahkah engkau bersyukur wahai diri?
Tanpa kita minta Dia memberikan nikmat yang luar biasa. Kita memiliki dua mata, satu lidah, dua lubang hidung, dua tangan, dan dua kaki. Bagaimana jika Dia mengambil salah satu nikmat tersebut?  Misal, Dia mengambil nikmat kaki yang digunakan untuk berjalan dan menopang tubuh. Tentunya kita tidak bisa berjalan dengan semestinya, mungkin kita akan menggunakan kursi roda ataupun kruk. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Bersyukurlah!
Jangan sampai ketika nikmat sehat telah diambil olehNya baru Anda bersyukur. Praktik klinik keperawatan gerontik  membuat saya makin takjub atas skenarioNya. Dia dapat saja dengan mudah mengambil nikmat tersebut tanpa bisa kita halangi.
Selagi masih muda manfaatkanlah nikmat kesehatan ini dengan baik. Bersyukurlah! Tanpa kita sadari, hal yang membuat hidup tidak nyaman adalah ketika kita lupa bersyukur atas nikmat yang diberikanNya.
Salah satu pasien saya yang nonislam berpesan, “Jangan pernah meninggalkan shalat, bersyukurlah atas nikmat yang diberikan Tuhanmu padamu. Kamu akan sangat menyesal ketika nikmat itu hilang dan jangan pernah sombong atas apa yang didapat. Bersyukurlah!”
Seorang yang berbeda keyakinan dengan kita saja dapat berkata demikian. Kenapa kita yang jelas-jelas mengerti dan paham malah lupa untuk bersyukur padaNya? Bersyukurlah pada setiap detik kehidupan ini! Bersyukurlah ketika kita bisa tidur dengan lelap. Karena di luar sana masih banyak saudara kita yang tak bisa tidur lelap karena sakit yang mengganggunya. Bersyukurlah karena kita masih dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang disekitar kita yang tidak bisa makan dan minum karena sakit.
Bersyukurlah Allah masih memberikan kesehatan pada telinga kita sehingga kita masih bisa mendengar. Bayangkan jika fungsi pendengaran kita diambil olehNya. Renungkan kembali nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Coba raba kembali mata kita yang tidak  buta. Sentuhlah kulit kita yang terbebas dari penyakit kulit, jika penyakit kulit menimpa kita mungkin banyak yang akan menghindar dari kita. Renungkan kembali betapa dahsyatnya fungsi otak kita, memori  yang kuat, serta akal yang masih berfungsi dengan baik sehingga terhindar dari kegilaan yang menghinakan.
Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit? Apakah Anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah Anda, hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar kedua tangan Anda dengan untaian mutiara, sementara tangan Anda buntung?
Begitulah, sebenarnya kita berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh, tapi kita sering tak menyadarinya. Kita sering sadar ketika nikmat itu perlahan-lahan diambilNya. Terkadang, kita tetap merasa resah, gelisah, suntuk, dan sedih,  meskipun kita masih mempunyai nasi hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.
Salah satu hal yang membuat kita tidak bersyukur adalah kita sering memikirkan sesuatu yang tidak ada sehingga kita lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Jiwa kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya kita masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan kemudian syukurilah! Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekeliling Anda. Dan janganlah termasuk golongan orang-orang yang tak bersyukur dan ingkar.

Rabu, 07 Oktober 2015

Menata Hidup

Assalamu'alaikum
Selamat pagi, manceman

Hari ini saya akan menata (kembali) kehidupan di blog ini. Saya minta maaf  kepada followers dikarenakan sudah lama sekali tidak muncul diperedaran. Huehew.

Padatnya jadwal kuliah dan praktikum, banyaknya kegiatan di organisasi, serta deadline tugas dan amanah yang banyak membuat saya melupakan blog ini (sejenak). Sebuah alasan klasik memang tapi begitulah adanya.

Mungkin saya akan menata kembali postingan yang ada di blog ini. Sebelumya saya mohon maaf jika ada beberapa postingan yang teman-teman cari (mungkin) saya hapus.

Wassalam

Selasa, 17 September 2013

GORESAN TANAH KELAHIRAN


Pagi itu, ketika aku terbangun dari tidurku tiba-tiba firasatku tidak enak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, entah apa aku tidak tahu. Ketika aku hendak mengambil air minum ke dapur, tiba-tiba aku merasakan bumi ini berguncang beberapa detik. Guncangannya begitu hebat. Aku merasa bumi ini seakan runtuh, kepalaku pusing, lantai rumahku terayun-ayun, foto-foto yang bergantungan di dinding rumahku berjatuhan, piring-piring dan perkakas lainnya juga ikut berjatuhan dan pecah. Aku mulai dihantui ketakutan, kulihat sekeliling tidak ada siapa pun. Ke mana ibu? Ke mana ayah? Dan ke mana adik-adikku? Beberapa detik kemudian aku baru ingat kalau mereka sedang berkunjung ke rumah nenekku.
          Setelah gempanya berhenti aku berlari keluar rumah dan kulihat para tetangga telah berkumpul bersama anggota keluarganya  di teras rumah masing-masing. Lalu, bagaimana denganku? Ibu, ayah, dan adik-adikku tidak ada. Ketika aku bergabung dengan para tetanggaku, tiba-tiba bumi kembali berguncang. Kali ini guncangannya lebih dahsyat dan waktunya cukup lama. Aku menangis sejadi-jadinya bersama temanku, Syifa anak tetanggaku. Ratap tangis dan jerit ketakutan anak-anak, tiap sebentar terdengar. Ibu-ibu mengendong anaknya ke tempat yang lebih aman. Ketakutan terpantul kuat dari ribuan penduduk yang menghambur keluar rumah.
          Setengah jam berlalu baru keadaan kembali tenang. Aku mencoba kembali ke rumah, siapa tahu ayah, ibu, dan adik-adikku sudah kembali dari rumah nenek. Benar, mereka telah kembali dan aku menangis dipangkuan ibu. Ternyata ibu mencemaskanku, walau terkadang aku tidak mendengarkan perkataannya, walau aku sering menyakitinya. Andai saja aku mendengarkan ajakan ibu untuk berkunjung ke rumah nenek mungkin keadaannya tidak seperti tadi, kami tidak akan terpisah untuk beberapa waktu.
          Kira-kira pukul 08.00 WIB bumi kembali berguncang dahsyat, hujan pun mulai turun. Kali ini tidak hanya piring-piring dan foto saja yang berjatuhan ke lantai, televisi pun ikut terjatuh dan hancur berserakan, lemari pakaianku pun hampir menimpa kepala Humairah, adikkku. Dinding rumahku terayun-ayun oleh guncangan bumi, semua rumah penduduk bergetar terguncang-guncang, terdengar suara bergemuruh,  bukit-bukit di sekeliling rumahku berjatuhan, banyak tanah yang runtuh membawa lumpur hitam membanjiri kampungku.  Air danau terlihat berwarna coklat karena bercampur dengan tanah perbukitan yang berjatuhan. Kami berpegangan erat satu sama lain dan berlari keluar rumah mencari tempat yang aman untuk berlindung. Penduduk berusaha menyelamatkan diri.  Banyak di antaranya yang terhuyung-huyung membawa bayi mereka dalam gendongan. Ratap tangis dan jerit ketakutan, kembali lagi terdengar. Hatiku sangat miris sekali mendengarnya.
          Keluargaku bersama penduduk berbondong-bondong mencari tempat yang aman. Jaringan komunikasi terputus akibat dari gempa bumi, rumah-rumah penduduk banyak yang  rata dengan tanah. Rumahku miring akibat perubahan struktur tanah. Karamba penduduk ikut tertimbun oleh tanah sehingga  banyak ikan-ikan yang mati dan terapung di danau. Di sekitar tempat aku berdiri lumpur hitam telah menggenang sampai ke lututku. Beberapa tetanggaku yang sedang memberi makan ikan di karamba terbenam. Beberapa penduduk tertimbun oleh tanah yang jatuh dari bukit di sekitar tempat kami tinggal. Burung-burung yang biasa bermain di sekitar danau pergi mencari tempat yang aman. Binatang yang biasa hidup di bukit tersebut pergi dari sarang masing-masing untuk menyelamatkan diri.
          Sejauh mata memandang, di pinggir danau Maninjau terlihat bukit-bukit di sekelilingnya seperti tergores, bewarna kemerah-merahan. Rupanya guncangan gempa yang dahsyat itu telah meruntuhkan tanah-tanah perbukitan di sekeliling Danau Maninjau. Kini menyisakan goresan luka di wajah perbukitan yang amat memilukan.
Sekitar dua jam kemudian telah banyak masyarakat mendatangi kampungku. Kami di bawa oleh sebuah truk untuk mengungsi ke daerah Sungai Batang. Di tempat pengungsian tersebut orang-orang telah ramai berkumpul. Asap rokok tercium di mana-mana. Kami tinggal di sebuah tenda yang penuh sesak. Jaringan komunikasi masih terputus, aku belum bisa mengabari keluargaku yang lain mengenai keadaanku sekarang. Pada saat aku di tempat pengungsian, gempa masih terus berguncang. Raut wajah ketakutan dan kepiluan terlihat dari wajah penduduk yang mengungsi.  Untuk beberapa minggu ini aku belum bisa sekolah, karena sekolahku tertimbun oleh tanah perbukitan, transportasi untuk ke sana juga tidak ada. Tiga jam setelah kami sampai di tempat pengungsian, kami diberi mie instan untuk menganjal perut. Dua hari kemudian, nasi bungkus berdatangan dari daerah lain. Tidak tahu siapa pengirimnya, yang jelas mereka tentu saudara kami dari daerah lain. Dalam satu hari, kami diberi makan dua kali sehari. Walaupun telah banyak yang mengirimi makanan kepada kami, tapi tidak semua kami yang kebagian. Setiap hari terjadi perebutan makanan, sampai-sampai aku pernah tidak makan dalam satu hari.
Satu minggu kemudian kami di pindahkan ke dalam ruangan yang luasnya empat kali empat meter. Ruangan ini penuh sesak, di langit-langit tergantung lampu neon 15 Watt. Di sudut ruangan tempat aku mengungsi terdapat sebuah televisi berukuran 14 inchi. Dari berita yang aku lihat disebutkan bahwa gempa yang terjadi di daerahku tersebut berpusat di Padang. Pada tayangan tersebut diperlihatkan bahwa banyak sekali rumah-rumah penduduk yang hancur. Hotel-hotel yang megah dan bangunan-bangunan rata dengan tanah. Banyak korban jiwa akibat gempa tersebut. Bayi-bayi tidak berdosa banyak yang meninggal. Rumah gadang berduka.

Selasa, 18 September 2012

DIA


Bismillahirrahmanirrahim…
          Waktu tlah lama berlalu sejak memori indah itu tercipta, hatiku tlah lama membeku tuk meraih sebuah harapan baru, hidup yang kujalani berlalu tanpa cinta dan pengharapan kecuali hanya pada tuhan, semua kenangan indah itu harus kubayar mahal dengan kesepian yang panjang, tapi itu sementara.
Kini kureguk habis semua obat penawar, menjadikan hatiku beku seperti karang yang tak tergoyahkan. Hidupku berbakti hanya tuk DIA yang bisa membalas segala cintaku, tanpa keterbatasan ruang dan waktu DIA selalu hadir, belaian lembut tangannya mengusap seluruh ruang jiwaku yang telah hampa, kehangatannya membekukan cinta bagi manusia tapi berbalas dengan curahan kasih sayang yang melebihi cinta apapun, kasih ilahi mengalir disetiap liku tubuhku mencurah kepada setiap insan dan makhluk ciptaannya, oh…alangkah nikmatnya mencinta tanpa batas, tanpa rintangan kecuali diriku sendiri.
          Aku mencinta setiap apapun, menyayangi setiap apapun hanya karna DIA, DIA lah yang mengajariku arti cinta yang sesungguhnya, cinta tanpa pengharapan kecuali bahagia, bukan hanya disini tapi juga disana, dikehidupan akhir kelak.
Cinta tanpa rasa kecewa, cinta yang membuatku mengenal dengan sesungguhnya arti sebuah pengorbanan, kesetiaan, keikhlasan dan pengharapan. Mencintai ALLAH membuat hidup menjadi terang, hidup lebih hidup.
Terang benderang itu seperti malam purnama penuh bintang berganti siang, saat terberat ialah saat beku, saat dimana puncak kegelapan malam menyapa, saat pergantian, saat perubahan dari cinta manusia kepada cinta tuhan, saat fajar hendak menyingsing mengganti dinginnya malam menjadi kehangatan pagi yang menyegarkan, cerah dan penuh gairah kehidupan dari dua alam, kecerahan yang membangunkan segenap isi alam, cerah yang menerangi setiap jengkal bumi, terangnya malam tidaklah pernah mampu menyaingi sang siang dengan mentarinya yang maha dahsyat, bahkan purnama hanyalah jiplakan secara emanasi dari mentari yang sesungguhnya, jadi kenapa hanya meneguk setetes madu diujung daun yang telah tercampur entah dengan apa bila mampu mengambil langsung dari sarang, walaupun butuh sedikit pengorbanan untuk memanjat batang dan meniti dahan bahkan terkadang harus menahan sengatan yang menyehatkan dan membuat otak bertambah pintar, itu semua adalah pengorbanan walau banyak orang yang jatuh atau terpeleset, disanalah letak harga sebuah kesungguhan karna madu itu bukanlah barang murahan yang sembarangan yang bisa dinikmati kapan saja dimeja makan…bukan teman, bukan begitu. Madu itu sangat mahal harganya dan butuh kerja keras untuk mendapatkannya, ia takkan pernah datang begitu saja kehadapan, ia terlalu berharga untuk diumbar begitu saja, ia hanyalah milik orang-orang yang mau mendapatkannya dan bersungguh-sungguh dan ia takkan pernah habis, ia bukan milik orang yang malas dan suka berpangku tangan, tapi ia milik orang yang suka bekerja keras dan mau berkorban apa saja bahkan bila perlu nyawanya sendiri atau hal-hal yang sangat disayang, memang begitulah karna madu itu sangat berharga…

Senin, 23 Juli 2012

Islam kok pacaran?

Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.


Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.


Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).


Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?


Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !


Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).


Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."


Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, ataw memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya." Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi "dunia berpacaran" mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi "perahu pacaran" itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan "mencintai karena Allah" tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai "mencintai karena Allah ?" Jawabnya jelas tidak !


Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan.

Rabu, 23 Mei 2012

Pergaulan Generasi Muda Menurut Islam


Berhubung dalam pembelajaran agama Islam ada materi mengenai dakwah, ana ditugaskan untuk berdakwah,  ana mau posting nih. Adapun tema yang ana angkat yaitu “Pergaulan Generasi Muda Menurut Islam.”
Oke, langsung aja yaaaaa, chek it out J
Remaja adalah generasi muda garapan harapan bangsa. Di tangan merekalah estapet perjuangan bangsa ini terletak. Bila kita amati pergaulan generasi muda, khususnya remaja pada akhir-akhir ini sudah mulai jauh dari tuntunan nilai-nilai Islam. Banyak di antara mereka yang terlibat dengan narkoba, pergaulan bebas, balapan liar, dan hal-hal lain yang merusak masa depan.
          Contoh saja tentang narkoba, dengan tegas Allah SWT melarang kita untuk terlibat dengan hal yang berhubungan dengan narkoba. Sebagaimana Q.S AL-Maidah : 90, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala,mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
          Khamar dalam ayat ini berarti semua hal yang menyebabkan hilangnya akal sehat dan kesadaran diri karena mengkonsumsi barang tersebut. Baik dengan meminum, memakan, atau mengisap dan sebagainya. Dalam arti kata, semua jenis narkotika, psikotropika, dan zat aditif lainnya dikategorikan sebagai khamar, dan hal ini sangat dibenci oleh Allah karena merupakan perbuatan setan. Maka, tidak pantas bagi seorang remaja melakukan perbuatan-perbuatan setan yang jelas-jelas menghancurkan masa depannya dan merusak motivasi belajar. Padahal pada masa remaja inilah, waktu yang paling ideal untuk menimba ilmu pengetahuan sebanyak-benyaknya dan penanaman nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan, belum lagi dampak yang diakibatkan oleh narkoba dan zat aditif lainnya yang merusak kehidupan manusia.
          Begitu pula dengan pergaulan remaja yang akhir-akhir ini kita saksikan sudah sedemikian bebas dan jauh dari tuntunan agama. Nilai-nilai agama yang seharusnya jadi tuntunan dan ikutan dalam kehidupan dianggap mengekang dan dibelakangkan. Dan justru mereka mengadopsi nilai-nilai kehidupan barat yang sangat bebas dan mengedepankan hawa nafsu, yang dengan cara apa pun tidak sesuai dengan budaya kita, bangsa yang lahir, tumbuh, dan besar di negeri yang berfalsafah “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.”
          Betapa banyak kita saksikan remaja-remaja yang hamil diluar nikah pada usia sekolah. Bahkan hampir setiap hari kita saksikan di depan mata kita sendiri, remaja berboncengan di atas motor, berpelukan, dan berbuat hal-hal asusila lainnya dengan rasa tanpa perasaan bersalah dan malu dilihat orang lain yang bahkan bapak ibunya tidak pernah melakukannya.
          Allah telah jelas-jelas memerintahkan setiap muslim dan muslimah untuk  menjauhi perbuatan zina. Sebagaimana Q.S Al-Israa : 32,  yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”
          Teman-teman yang saya sayangi, marilah kita mulai dari diri kita sendiri dan keluarga untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari kita khususnya bagi kita, generasi muda. Para remaja, mari jauhkan diri kita, teman-teman, dan keluarga kita dari hal yang berbau narkoba, begitupun dengan pergaulan. Karena tidak sepantasnya seorang muslim dan muslimah yang tidak terikat hubungan suami istri yang bukan muhrim berkhalwat (berdua-duaan) kapan dan dimana saja, karena setiap laki-laki dan perempuan yang berdua-duaan maka yang ketiga adalah setan.
          Marilah kita manfaatkan waktu di masa remaja ini bukan untuk berpacaran dan hal negative lainnya. Tapi marilah kita isi dengan belajar bersungguh-sungguh, membca serta mempelajari isi kandungan AL-Qur’an serta hadits nabi, meningkatkan pemahaman dan ilmu-ilmu agama, serta membantu meringankan beban orang tua dengan tidak membuat masalah dalam keluarga dan masyarakat.

Semoga bermanfaat ^_^

Kamis, 26 April 2012

Biarkan Masa Depan Datang Sendiri


{Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar
disegerakan (datang)nya.}
(QS. An-Nahl: 1)

Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi! Apakah Anda mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya dilahirkan, atau memetik buah-buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum berwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Jika demikian, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan bencana-bencana yang bakal ada di dalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan berwujud kesenangan atau kesedihan?

Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke bumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai di atasnya. Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti jalan kita sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa jadi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya.

Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru di duga darinya, adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya, hal itu termasuk thulul amal (angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itu pun tak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia di dunia ini justru banyak yang termakan oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krmjekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari kurikulum yang diajarkan di "sekolah-sekolah setan".

{Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh
kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan
daripada-Nya dan karunia.}
(QS. Al-Baqarah: 268)

Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di 'genggaman yang lain' tentu tidak akan menggadaikannya untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukkan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud.

Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan
petakanya. Sebab, hari ini Anda sudah sangat sibuk. Jika Anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan-angan yang berlebihan.